Warga RW 16 Kelurahan Tanjungmas, Semarang Utara, menyimpan rasa rindu terhadap almarhum KH. Syarif Hidayatullah. Seorang dai kondang yang banyak dikenal warga Semarang. Pada momen istighosah rutin yang digilir per-RT rasa rindu tersebut terobati.
Hal itu, lantaran putra almarhum KH. Syarif Hidayatullah, yaitu Much. Taufiqillah Al Mufti atau disapa Much memberi mau'idloh hasanah pada Jam'iyyatul 'Amm atau jamaah pengajian RW 16 Kelurahan Tanjungmas, Semarang Utara.
Sebagian warga, setelah selesai pengajian, mengungkapkan, bahwa pidato Much mirip dengan ayahnya. Kalem dan mengena sasaran. Saat itu, Much memang menyinggung fenomena keagamaan selama ini yang mengarah ke fundamental sehingga menelurkan perilaku intoleran dan ujaran kebencian.
Salah satu materi yang menjadi bahan pidato Much adalah cerita seseorang muslim di zaman Khulafaur Rosyidin yang mengaku: menjauhi rahmat Allah, benci terhadap yang haq, dan mempunyai yang tidak dipunyai Allah.
Saat itu, kekhalifahan dipimpin oleh Sayyidina Umar bin Khaththab Ra. Mendengar hal tersebut, mungkin merasa Tuhannya dinista, Sayyidina Umar naik pitam dan menghampiri orang tersebut, kemudian diarak ke Sayyidina Ali bin Abu Thalib karomallohu wajhahu untuk diinterogasi.
Ternyata yang dimaksud menjauhi rahmat Allah adalah lari ketika turun hujan yang disebut Allah sebagai rahmat-Nya. Yang dimaksud membenci yang batil adalah sakarotul maut. Dan yang dimaksud mempunyai yang tidak dipunyai Allah adalah orang tua, istri, dan anak. Jamaah pun, Bapak dan Ibu, akhirnya manggut-manggut. Oh.
Much menekankan pentingnya tabayyun atau klarifikasi setiap mendengar kabar atau isu yang belum jelas kebenarannya. Bukan langsung main tuduh dan menghakimi sendiri.
Padahal sebelumnya, Much tidak tahu bahwa Abahnya pernah mengisi di Mushola tempat ia memberi ceramah. Ceritanya, sewaktu Much bersilaturahim dan bersosialisasi dengan warga ada salah seorang yang mengatakan akan mengundang KH. Syarif Hidayatullah. Mereka tidak tahu bahwa abah Much sudah meninggal pada tahun 2013.


Komentar
Posting Komentar