![]() |
| Tawassul: Gus Much dan Kang Abdurrahman membaca tahlil untuk almukarrom KH. Soleh Darat |
Diajak oleh Kang Abdurrahman, Much dipandu ke makam Mbah Soleh Darat. Walau hari sudah malam dan cuaca berangin, tidak menghalangi niat untuk sowan dengan seorang ulama kharismatik dan legendaris yang sezaman dengan Imam Nawawi al-Bantani ini.
Menurut kepercayaan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah an-Nahdliyah, orang alim dan soleh yang meninggal dunia sebenarnya tidak mati. Oleh karenanya, KH. Soleh Darat dapat dikatakan hidup secara rohani dan dekat dengan Allah. Apalagi semasa hidupnya Mbah Soleh Darat berjuang mensyiarkan Islam di pesisir utara Jawa. Maka, ziarah dan bertawassul kepada Mbah Soleh Darat sudah jadi unggah-ungguh semestinya.
![]() |
| Sinergi: bersama kader muda NU |
Sebagaimana diketahui bahwa Mbah Soleh Darat merupakan guru dari ulama-ulama Nusantara. Termasuk guru pendiri ormas keagamaan terbesar, Hadrautusyekh KH Hasyim Asy'ari (NU) dan KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah). Pun merupakan guru Raden Ajeng Kartini, seorang pejuang emansipasi perempuan. Sayang, sejarah demikian jarang diterangkan di lembaga-lembaga pendidikan formal.
Karakter keulamaan Mbah Soleh terbilang rendah hati, berprinsip, adaptif, dan kreatif karena dari tangan beliau tersusun kitab Matan Al Hikam yang merupakan terjemahan dan ringkasan kitab Al Hikam karya Syekh Ahmad ibnu Atho'illah. Dalam kitab tersebut menulis dengan huruf pegon, atau huruf Arab yang dapat dibaca dalam lafadz Jawa. Tujuan beliau untuk memudahkan orang awam mempelajari Islam.
"Ini kitab ringkasan dari Matan Al Hikam karya al Allamah al Arif billah asy-Syaikh Ahmad ibnu 'Atho'illah, saya ringkas sepertiga dari asal agar memudahkan orang awam seperti saya, saya terjemahkan dengan bahasa Jawa agar cepat paham bagi orang yang belajar agama atau mengaji," kata Mbah Soleh Darat dalam muqaddimah Matan Al Hikam (sumber: Suara Merdeka; Menelusuri Jejak Kiai Sholeh Darat).


Komentar
Posting Komentar