Langsung ke konten utama

Pamit ke KH. Soleh Darat

Tawassul: Gus Much dan Kang Abdurrahman membaca tahlil untuk almukarrom KH. Soleh Darat
Much bersama tim, mengunjungi ke pemakaman umum Bergota. Tujuannya ziarah ke makam KH. Soleh Darat. Mengacu kepada sejarah, ternyata Mbah Soleh Darat, sapaan akrab di telinga warga Semarang, semasa hidupnya mengasuh pondok pesantren yang terletak di Semarang Utara, kampung Darat, Kelurahan Dadapsari.

Diajak oleh Kang Abdurrahman, Much dipandu ke makam Mbah Soleh Darat. Walau hari sudah malam dan cuaca berangin, tidak menghalangi niat untuk sowan dengan seorang ulama kharismatik dan legendaris yang sezaman dengan Imam Nawawi al-Bantani ini.

Menurut kepercayaan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah an-Nahdliyah, orang alim dan soleh yang meninggal dunia sebenarnya tidak mati. Oleh karenanya, KH. Soleh Darat dapat dikatakan hidup secara rohani dan dekat dengan Allah. Apalagi semasa hidupnya Mbah Soleh Darat berjuang mensyiarkan Islam di pesisir utara Jawa. Maka, ziarah dan bertawassul kepada Mbah Soleh Darat sudah jadi unggah-ungguh semestinya.

Sinergi: bersama kader muda NU
Dalam hal ini, Much bersama tim mendoakan bangsa Indonesia agar senantiasa diberikan ketentraman, kedamaian, dan terhindar dari perpecahan. Seperti diketahui, banyak bermunculan ujaran kebencian, hoax, hingga fitnah baik secara langsung maupun lewat media sosial yang rentan memicu konflik horizontal. Terlebih saat ini adalah tahun politik, dengan agenda Pilpres dan Pileg yang berbarengan.

Sebagaimana diketahui bahwa Mbah Soleh Darat merupakan guru dari ulama-ulama Nusantara. Termasuk guru pendiri ormas keagamaan terbesar, Hadrautusyekh KH Hasyim Asy'ari (NU) dan KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah). Pun merupakan guru Raden Ajeng Kartini, seorang pejuang emansipasi perempuan. Sayang, sejarah demikian jarang diterangkan di lembaga-lembaga pendidikan formal.

Karakter keulamaan Mbah Soleh  terbilang rendah hati, berprinsip, adaptif, dan kreatif karena dari tangan beliau tersusun kitab Matan Al Hikam yang merupakan terjemahan dan ringkasan kitab Al Hikam karya Syekh Ahmad ibnu Atho'illah. Dalam kitab tersebut menulis dengan huruf pegon, atau huruf Arab yang dapat dibaca dalam lafadz Jawa. Tujuan beliau untuk memudahkan orang awam mempelajari Islam.

"Ini kitab ringkasan dari Matan Al Hikam karya al Allamah al Arif billah asy-Syaikh Ahmad ibnu 'Atho'illah, saya ringkas sepertiga dari asal agar memudahkan orang awam seperti saya, saya terjemahkan dengan bahasa Jawa agar cepat paham bagi orang yang belajar agama atau mengaji," kata Mbah Soleh Darat dalam muqaddimah Matan Al Hikam (sumber: Suara Merdeka; Menelusuri Jejak Kiai Sholeh Darat).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesan Mbah Saliyun; Jangan Lupa Membaca

Rendah Hati: (dari kiri) Mbah Saliyun, Gus Much, dan Pak Arif Walau rambutnya sudah beruban dan kulitnya berkeriput tapi beliau senang dan bersemangat menceritakan kisah perjalanannya sebagai seorang pegawai negeri yang merangkap wartawan. Dari situ beliau penah mengeliling Indonesia. "Dulu saya aktif jadi wartawan di Suara Merdeka sampai tahun 1984, liputan saya terakhir. Pada waktu itu saya sempat meliput Muktamar NU di Situbondo yang hasilnya menegaskan NU kembali ke Khittah 1926 sebagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan" jelasnya. Beliau adalah H. Saliyun Mochammad Amir, atau disapa Mbah Saliyun, merupakan salah satu tokoh sepuh NU di Kota Semarang. Beliau mengaku, dari aktifitasnya sebagai wartawan ia berjodoh dengan NU. Walau Mbah Saliyun sendiri juga seorang alumni pesantren sebagai basis NU, tapi di pesantren kadang tidak dikenalkan apa itu NU. Ketika Much didampingi Kang Ali Sidqon, Ketua Ansor Semarang Timur, sowan ke kediaman Mbah Saliyun. Ia bany...

Dorongan Sayang Para Bunda Yatim

Punya Ibu banyak : Much. Taufiqillah Al Mufti bersama bunda-bunda yatim Merasa sayang dengan Much. Taufiqillah Al Mufti, para Bunda Yatim ramai-ramai mendukungnya. Bunda Yatim dari daerah Tambak Lorok, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, meluangkan waktunya dan mengeluarkan segenap tenaganya untuk menggalang dukungan masyarakat setempat. Tulus : Much. Taufiqillah Al Mufti mendengar dengan telinga dan mata Rasa sayang itu bukan rekayasa. Para bunda yatim tahu bahwa Much merupakan anak yatim dimana mereka sendiri di rumah merawat dan membesarkan anak yatim. Mereka menganggap Much adalah anak sendiri. Kasih sayang tulus yang menggerakkan bunda yatim, walau banyak rintangan karena adanya kompetisi antar pendukung caleg. Alih-alih totalitas, tetapi para bunda yatim bergerak dengan kesantunan dan keyakinan. Dan bukan dengan kenekatan dan arogansi. Mereka semua merupakan penganut agama Islam yang taat secara ritual dan sosial. Tidak ada yang dituntut oleh para bunda ...