![]() |
| Punya Ibu banyak: Much. Taufiqillah Al Mufti bersama bunda-bunda yatim |
Tulus: Much. Taufiqillah Al Mufti mendengar dengan telinga dan mata
Rasa sayang itu bukan rekayasa. Para bunda yatim tahu bahwa Much merupakan anak yatim dimana mereka sendiri di rumah merawat dan membesarkan anak yatim. Mereka menganggap Much adalah anak sendiri. Kasih sayang tulus yang menggerakkan bunda yatim, walau banyak rintangan karena adanya kompetisi antar pendukung caleg.
Alih-alih totalitas, tetapi para bunda yatim bergerak dengan kesantunan dan keyakinan. Dan bukan dengan kenekatan dan arogansi. Mereka semua merupakan penganut agama Islam yang taat secara ritual dan sosial. Tidak ada yang dituntut oleh para bunda yatim, dalam hal materi, hanya perhatian dan pengertian yang dipintanya. Hal ini selaras dengan tujuan Much untuk tidak mencari konstituen melainkan mencari seduluran (persaudaraan).
Di sisi lain, Much tak mengharap didukung hanya lantaran yatim-piatu. Menurutnya, jika ingin menolong orang lemah, harus menjadi orang kuat dulu. Tidak mungkin menolong padahal sadar dirinya lemah. Orang kuat di sini, artinya memiliki mental dan kualitas. Harta dan jabatan tidak menjadi jaminan orang bisa kuat. Hal ini selaras filosofi Jawa, sugeh tanpa banda (kaya tanpa harta), digdhaya tanpa aji (hebat tanpa kelebihan).
Pemimpin tidak harus kaya, tapi berani dan tegas. Seperti sosok Abu Bakar as-Shiddiq, khalifah pertama pasca-wafatnya Rasululloh SAW. Beliau bukan orang kaya, tetapi tegas terhadap orang-orang besar dan selalu melindungi orang-orang kecil. Sebelum jadi khalifah pun, Abu Bakar ash-Shiddiq sudah demikian, sebab beliau termasuk as-sabiqunal awwalun. Orang-orang pertama yang berani memutuskan masuk Islam, dengan segala resiko saat itu.


Komentar
Posting Komentar