![]() |
| Rendah Hati: (dari kiri) Mbah Saliyun, Gus Much, dan Pak Arif |
Walau rambutnya sudah beruban dan kulitnya berkeriput tapi beliau senang dan bersemangat menceritakan kisah perjalanannya sebagai seorang pegawai negeri yang merangkap wartawan. Dari situ beliau penah mengeliling Indonesia.
"Dulu saya aktif jadi wartawan di Suara Merdeka sampai tahun 1984, liputan saya terakhir. Pada waktu itu saya sempat meliput Muktamar NU di Situbondo yang hasilnya menegaskan NU kembali ke Khittah 1926 sebagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan" jelasnya.
Beliau adalah H. Saliyun Mochammad Amir, atau disapa Mbah Saliyun, merupakan salah satu tokoh sepuh NU di Kota Semarang. Beliau mengaku, dari aktifitasnya sebagai wartawan ia berjodoh dengan NU. Walau Mbah Saliyun sendiri juga seorang alumni pesantren sebagai basis NU, tapi di pesantren kadang tidak dikenalkan apa itu NU.
Ketika Much didampingi Kang Ali Sidqon, Ketua Ansor Semarang Timur, sowan ke kediaman Mbah Saliyun. Ia banyak diberi arahan. Salah satunya agar tetap membaca.
"Saya pernah ditegur salah seorang kru majalah Aula. Katanya, orang NU itu cuma 100 ya? Saya kaget, terus saya tanya balik, jawabnya masak yang pesan majalah cuma 100. Akhirnya saya langganan untuk 50 eksemplar."
Tiba-tiba Mbah Saliyun berdiri, menyibak tirai, dan masuk ke dalam rumah. Kemudian keluar sambil menenteng lembar fotocopy-an dan sebuah majalah Aula. Ternyata itu diserahkan kepada Much dan sigap menyambutnya.
"Itu saya pinjami fotocopy keterangan sejarah NU dan dasar peringatan Maulid Nabi SAW. Itu kamu gandakan ya, buat bacaan (dan bahan materi kamu)," ucap Mbah Saliyun sambil menuding fotocopy yang ia pinjamkan.
Apa yang dilakukan Mbah Saliyun tersebut cukup beralasan dimana akhir-akhir ini sebagian orang mudah menyalahkan suatu ajaran yang tidak ada dalil Qur'an dan Sunnahnya. Mereka mengatakan: bid'ah. Padahal bid'ah sendiri terbagi dua, yaitu bid'ah hasanah (baik) dan bid'ah dlolalah (sesat).
Selain disarankan tetap membaca, Mbah Saliyun juga berpesan kepada Much sebagai Caleg DPRD Kota Semarang nomor urut 8 daerah pemilihan 1 Semarang Utara, Semarang Timur, dan Semarang Tengah agar tidak berkampanye di dalam masjid. Hal itu memang menjadi prinsip dari Much sendiri, bahwa masjid sebagai rumah Allah tidak boleh dipolitisasi. Dijadikan tempat ajang menggalang dukungan politik.
"Kami tidak akan berkampanye di dalam masjid. Itu bukan tempatnya. Selain dilarang oleh aturan, secara etika sudah tidak pantas," tegas Sekretaris Baanar Kota Semarang ini.
Di kediaman Mbah Saliyun, Much juga disambut oleh Pak Arif, putra Mbah Saliyun. Dari obrolan dengan beliau, ternyata diketahui bahwa Pak Arif merupakan teman seperjuangan Ibu Much, almarhumah Dzuliyatun Robiatul Adawiyah.

Komentar
Posting Komentar