Gerakan Pemuda Ansor selalu mengambil peran dalam peristiwa-peristiwa bersejarah di Republik Indonesia, salah satunya dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang penuh emosi itu. Banyak yang tidak tahu bahwa salah seorang perobek bendera Tri-Warna di Hotel Oranye bernama Cak Asy'ari yang notabene adalah ANO (Ansor Nahdlatul Oelama).
Ketidaktahuan tersebut karena sedari sekolah kita diberi pelajaran sejarah yang tidak utuh. Ada serpihan-serpihan peristiwa, tokoh, kelompok yang tidak terekam dan dijelaskan kepada siswa. Bahwa jihad GP Ansor mempertahankan tanah air sudah ada sejak sebelum republik ini berdiri. GP Ansor berdiri pada tahun 1934 sebagai hasil Muktamar NU ke-IX di Banyuwangi.
Dalam sebuah pertemuan GP Ansor pada tahun 1949 di kantor PB ANO Jl. Bubutan VI/2 Surabaya, KH A. Wahid Hasyim, Menteri Agama RIS saat itu, hadir dan mengemukakan pentingnya dan tujuan berdirinya sebuah organisasi kepemudaan NU untuk: membentengi (mendukung) perjuangan umat Islam Indonesia dan untuk mempersiapkan kader penerus NU (baca: Ensiklopedia Nahdlatul Ulama). Pertemuan tersebut sekaligus memutuskan untuk mengganti nama ANO dengan GP Ansor.
Posisi GP Ansor dan NU ibarat santri dan kiai, dimana GP Ansor beranggotakan pemuda-pemuda yang rata-rata merupakan alumni pesantren. Para anggota GP Ansor sejak mula terdidik untuk tawadhu dan berkhidmat kepada kiai. Mereka meyakini dan mematuhi pesan serta arahan kiai karena ia menguasai ilmu agama dan lebih-lebih memiliki akhlaq yang patut diteladani.
Posisi kiai di masyarakat sendiri sangat sentral, selain karena kiai adalah warosatul anbiya (pewaris para nabi) juga memiliki kapasitas spiritual yang mapan. Tidak mudah bimbang, goyah, ragu dalam segala keadaan, karena keimanannya pada Allah sudah menghujam ke dalam akal dan hati. Kesederhanaannya membuat ia dicintai masyarakat (baca: Islam Santai: Kedamaian dan Kemanusiaan dalam Pesona Keintiman Agama dan Budaya, Acep Zamzam Noor). Layak apabila kiai dijadikan panutan dan rujukan permasalahan kehidupan sehari-hari: dari rumah tangga hingga kenegaraan.
Di awal-awal Hadrautusyekh KH M Hasyim Asy'ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng ada santri (pemuda) yang patuh dan tawadhu dalam bergotong royong membangun pesantren serta menjaga keamanan dari serangan-serangan penjajah (Hindia-Belanda) dan pihak-pihak yang tidak menyukai berdirinya pesantren di kampungnya (Guru Sejati Hasyim Asy'ari: Pendiri Pesantren Tebu Ireng yang Mengakhiri era Kebo Ireng dan Kebo Kicak, Masyamsul Huda). Di situlah cikal-bakal GP Ansor, berasal dari santri-santri yang cinta pada kiainya.
Ada pun, dalam sejarahnya GP Ansor pernah berbeda sikap dengan NU (induk organisasinya). Tetapi, pada tahun 1951 terjadi Persetujuan Bersama PBNU-PP GP Ansor. Dan dalam perjalanannya perbedaan sikap masih terjadi, semisal pada tahun 1982 dalam Kongres GP Ansor di Semarang menganugerahkan gelar "Bapak Pembangunan" kepasa Soeharto, sedangkan pada Munas Alim Ulama NU di Yogyakarta (beberapa saat setelah Kongres GP Ansor) mengambil sikap kritis terhadap pemerintahan Orde Baru (baca: Ensiklopedia Nahdlatul Ulama Jilid I). Walau demikian, perbedaan tersebut tidak sampai menyentuh aspek ushul (pokok inti ajaran agama).
Dengan bekal ngaji di pesantren dan patuh pada kiai, membuat GP Ansor tidak dapat disamakan dengan ormas radikal dan ekstremis. Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya tidak terlepas dari peran GP Ansor, karena ada Fatwa NU yang dicetuskan para alim-ulama pada 22 Oktober 1945 yang harus dikawal dan dilaksanakan.
Dalam perjuangan "amar ma'ruf nahi munkar", GP Ansor lebih mendahulukan tabayyun dari pada menghakimi sendiri. Meski terkesan kompromis, tetapi masih berpegang teguh pada prinsip keadilan (ta'adul). Itu lah mengapa, dalam Banser (anak organisasi GP Ansor), ada slogan: Banser-Ansor di belakang TNI-Polri. Pancasila Jaya. NKRI harga mati.
Prinsip keadilan yang dipegang Ansor-Banser itu terbukti ketika perayaan Natal, Banser turut mengawal dan menjaga keamanan di sekitar gereja. Hal itu tindakan konkrit dalam merajut kebhinnekaan, berbeda-beda agama yang penting satu tujuan: NKRI. Pernah seorang anggota Banser, Riyanto asal Mojokerto, pada 24 Desember 2000 menjadi korban ketika mengamankan prosesi ibadah Natal di Gereka Eben Haezer. Ia mendekap bom yang akan meledak di gereja tersebut.
Di samping itu, perlu juga diketahui, GP Ansor beserta Banser merupakan organisasi non-profit. Tidak mencari keuntungan. Bukan tempat menghimpun pundi-pundi rupiah dan ma'isyah. Apabila ada job menjaga keamanan pengajian sampai larut malam atau mengawal seorang pimpinan NU atau kiai atau habib, Banser tidak dibayar dan tidak minta dibayar. Padahal rata-rata mereka pagi bekerja, baik sebagai buruh, tukang becak, ojek, pelajar, sampai dosen. Hanya, yang diharapkan Ansor-Banser yaitu keberkahan dan doa-restu kiai.
Tidak heran, Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh menyelimatkan gurau dalam doanya pada Ansor-Banser, "Semoga amalmu diterima Gusti Allah dan rezekimu lancar, sehingga dapat memondokkan atau menyekolahkan anakmu sampai jadi profesor. Dan, yang jelas semoga rokokmu tidak dibeli dengan harga eceran." Pun almaghfurllah KH. Hasyim Muzadi juga pernah berseloroh kepada Banser, "Gagah begitu, rokoknya eceran" (Kangen Banser yang Dulu, Banser yang Mana?, Alif Bareizy, di NU Online).
Guyonan para kiai perihal rokok eceran kepada Banser tadi sudah jadi penanda bahwa Ansor-Banser suka ngopi - karena rokok eceran umumnya dibeli di warung kopi (tidak mungkin orang beli rokok eceran tapi ndak ngopi, kan?). Di dalam ngopi selain dapat menghibur diri, juga akan terjalin interaksi sosial-kultural baik kepada sesama Nahdliyin maupun non-Nahdliyin. Baik sebagai ajang serawung hingga konsolidasi.
Di situ lah, dalam merancang strategi gerakan GP Ansor lebih mendahulukan pendekatan kultural dari pada struktural, semisal mengajak Gus Nur untuk bertabayyun dan mencari titik terang. Tidak main lapor. Tetapi, tidak menutup kemungkinan bertindak setegas-tegasnya, seperti membubarkan pengajian Ustadz Khalid Basalamah di Sidoarjo karena isi ceramahnya yang meresahkan.
Oleh karenanya, kadang orang salah mengartikan tindakan Ansor-Banser yang terkesan radikal. Boleh jadi tidak bisa diterima oleh akal sehat, tetapi rasionalisasinya dapat diterima setelah diamati. Semisal, ketika ada ustadz atau penceramah yang mudah mengkafirkan dan menyesatkan, kalau didengar orang Banser, pasti telinganya gatal. Bukan karena kontra, tetapi dampak yang ditimbulkan dari perkataan tersebut: perpecahan dan pertikaian sesama bangsa.
Hari-hari ini, terutama setelah tragedi pembakaran bendera HTI, banyak fitnah dan serangan dari pihak-pihak yang benci pada Ansor-Banser. Tetapi, hebatnya, Ansor-Banser tetap berfikir jernih, santai, dan tidak mudah terprovokasi. Saya suka tanggapan Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, saat dilaporkan ke Bareskrim Polri tentang pembakaran bendera:
“Saya tahu dilaporkan dan saya santai saja. Saya tinggal ngopi lah. Saya akan mengikuti proses hukum yang nanti akan dijalankan. Saya akan hadapi,” tegas Yaqut di kantor pusat GP Ansor (Tirto.id).
Sejak berdiri, GP Ansor berkomitmen mempertahankan dan membela agama serta bangsa dari pihak-pihak yang ingin merongrong dan memecah belah bangsa. Peran GP Ansor sudah ada sejak pra-kemerdekaan sampai sekarang: mengusir penjajah, menumpas G30S PKI, dan pasca-menghadang jaringan kelompok radikal. Maka kalau ada usulan untuk membubarkan Ansor-Banser, dengan kata lain usulan tersebut keluar dari orang yang tidak membaca sejarah dan lebih-lebih kurang ngopi.

Komentar
Posting Komentar