Di luar pemuda sebagai aset bangsa, pemuda merupakan ruh dari pada bangsa itu sendiri. Dalam diri pemuda terdapat potensi yang dapat menjadi motor penggerak perubahan. Pemikiran yang jernih, segar dan kreatif serta ditunjang fisik yang masih prima, pemuda acap menjadi pandu sekaligus pendobrak di saat-saat terjadi kebuntuan. Yaitu dead lock dalam suatu permasalahan, baik di tingkat lokal hingga regional.
Hal itu terbukti.
Pada saat bangsa kita dikebiri oleh penjajah Belanda, pemuda dengan gagah berani menghadapi segala ancaman dan resiko - kemungkinan mati muda - untuk lantang bersuara menyatakan pikirannya di Kongres Pemuda II. Mereka pemuda-pemuda dari berbagai latar belakang suku dan agama. Di tengah kemungkinan pembubaran kongres oleh pemerintah Hindia-Belanda, para pemuda bergeming dan bersama-sama menyatakan sumpahnya.
"Kami poetra dan poetri Indonesia bertoempah darah yang satoe, tanah Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa yang satoe, bangsa Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mendjundjung bahasa persatoean, bahasa Indonesia."
Tiga kalimat tersebut menggema dalam ruangan kongres, hingga menggetarkan bumi dan menggoyangkan langit. Penjajah Belanda yang pada saat itu menerapkan "Politik Etis" harus menelan pil pahit. Pemuda-pemuda yang merupakan pelajar di sekolah-sekolah rintisan Belanda (maupun dari mandala, pesantren, padepokan, dst), telah keluar dari kungkungan pola berfikir primordial. Perlahan demi perlahan mereka mulai mempelajari, memahami, menghayati, dan mengamalkan apa yang disebut: nasionalisme.
Walau Sumpah Pemuda bukan wacana baru, sebelumnya ada Sumpah Palapa yang menjadi visi kebangsaan Kerajaan Majapahit dalam rangka mempersatukan Nusantara. Tetapi Sumpah Pemuda elan vitalnya menembus sekat strata sosial masyarakat. Pondasi Sumpah Pemuda terletak pada persamaan sedarah, setanah air, dan sebangsa. Bukan tahta, bukan kekuasan.
Baru-baru ini, bangsa kita sadar atau tidak sadar tengah dikonyak-konyak oleh suatu gelombang massa. Kita tidak tahu, apakah itu sebenarnya? Dari mana mereka datang? Dan di mana mereka berhimpun? Gelombang massa tersebut nyaris tidak bisa diidentifikasi sebagai musuh, antek asing, atau apapun. Sebab, mereka adalah warga negara Indonesia sendiri. Tetapi keberadaan mereka nyata adanya. Ancaman mereka terasa sampai ke urat nadi kita.
Terkadang mereka menjadi teroris atau jihadis atau massa demonstran atau politisi atau akademisi atau mahasiswa atau guru atau mungkin tukang becak. Mereka seperti kita. Namun, ketika ada pemicu dan pemantik, maka gerombolan massa mereka datang dari segala penjuru. Dan kita tidak tahu dari mana asal mereka sebenarnya. Serba tiba-tiba. Seolah gerakan mereka telah tersusun berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun. Tak ayal rapi dan tak terendus.
Ironisnya, kita tidak sadar yang sedang mereka lakukan hendak memecah belah bangsa. Mencerai-beraikan kita. Bertolak belakang dengan elan Sumpah Pemuda. Padahal persatuan sebagai buah Sumpah Pemuda adalah sesuatu yang telah diperjuangkan dengan darah, keringat, dan air mata oleh para pejuang. Para pendiri bangsa.
Mereka lihai membuat dalih, narasi, cerita, plot, dan rekayasa konflik untuk mengagitasi kita supaya larut dalam emosi palsu mereka. Kata Rumadi Ahmad, Ketua Lakpesdam PBNU, menahan diri dari provokasi membutuhkan energi sabar berlipat. Bagaimana tidak? Jika lau tanpa kesabaran kita menelan pernyataan mereka mengenai pembakaran bendera yang diklaim bendera tauhid, kita tidak langsung menjadi bagian dari mereka.
Mungkin kita mengira Pilpres, Pileg, Pilkada, dan pemilihan lainnya yang membuat bangsa kita rentan perpecahan. Mungkin iya, padahal tidak. Kontestasi politik hanya target antara untuk memicu efek gunung es. Yaitu devide et impera.
Bila ditelisik, mereka akan muncul baik sebagai gerombolan massa maupun buzzer ketika mereka mendapat celah. Celah tersebut, apabila agama dan ajaran mereka merasa dinistakan. Saya sebut "merasa" karena sifatnya sangat subjektif. Apabila terdapat orang yang tidak sepakat dengan mereka dianggap melawan. Padahal cuma berbeda pendapat, sedangkan keimanan, tauhid, dan ajarannya masih sama. Mereka tidak berniat mencari kesepakatan, maupun kesepahaman, tetapi kemenangan, yang pada gilirannya: kekuasaan.
Kehati-hatian adalah kunci menghadapi mereka. Bersikap bijaksana dan tidak mudah tersulut apabila mereka memprovokasi. Walau ketika mereka dipancing akan cepat meledak, tak ayal ada yang menyebut mereka: barisan sumbu pendek.
Bagaimana dengan pemuda yang memiliki semangat menggelora? Bila disamakan dengan pemuda masa Kongres Pemuda akan berbeda, karena pemuda saat itu dikenal radikal melawan penjajah. Saat itu, lawan dan tujuannya jelas: kemerdekaan. Sehingga sikap radikal amat diperlukan untuk menghadang penjajah. Sedangkan, sikap radikal bagi pemuda saat ini tidak lagi relevan, karena lawan nampak samar-samar. Tidak mudah ditentukan. Justru apabila terlalu cepat menuduh malah menjerumuskan diri sendiri.
Oleh karenanya, semangat berani mati perlu diolah menjadi semangat berani hidup. Sebab, konsekuensi semangat berani mati mengarah pada arogansi dan kekacauan, sementara semangat berani hidup menuju pada keadilan dan kedamaian. Pemuda yang bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari adalah pemuda yang diliputi semangat hidup. Dia berjuang keras agar tidak menggantungkan diri pada orang lain. Dia mengisi kemerdekaan negerinya dengan hal-hal baik.
Itu lah pemuda Indonesia yang mampu menerima kenyataan bangsa dan keragaman masyarakatnya. Pemuda yang tidak malu dengan budaya serta bahasanya. Pemuda yang bangga pada hasil kerja kerasnya sendiri walau jumlahnya tak seberapa. Pemuda yang penuh syukur. Pemuda yang tidak mempermasalahkan bentuk dan sistem negaranya asal masyarakatnya dapat hidup tentram dan damai.

Komentar
Posting Komentar